The Learning Farm, Menanam Benih Perubahan Untuk Anak Muda

Apa Itu The Learning Farm?

The Learning farm (TLF) didirikan pada tahun 2005 oleh World Education (www.worlded.org) yang berbasis di Boston, sebuah organisasi nirlaba yang didirikan untuk mengatasi kurangnya keterampilan, kesempatan, dan harapan di kalangan pemuda yang rentan.

TLF mempunyai satu visi yaitu memberdayakan remaja rentan di seluruh Indonesia untuk menjadi anggota masyarakat yang independen, berkontribusi dan bertanggung jawab.

Untuk mewujudkan visi tersebut, TLF memiliki beberapa misi yaitu:

  • Membangun lingukan belajar yang aman, asuh dan produktif
  • Menanamkan keterampilan hidup dan nilai inti yang penting melalui media pembelajaran pertanian organik
  • Mengembangkan tanggung jawab lingkungan
  • Menciptakan jaringan alumni yang berkelanjutan yang secara aktif terlibat dengan masyarakat
  • Memastikan pengembangan staf secara terus menerus
  • Mempertahankan akuntabilitas kepada semua pemangku kepentingan

Siapa Saja yang Belajar di TLF?

Para pemuda yang belajar di TLF berasal dari beragam latar belakang dari jalanan di kota-kota seperti Jakarta, Yogyakarta, Jawa Tengah, Lampung, Sumatera, serta daerah pinggiran kota dan pedesaan seperti Karawang, Bogor, Bandung, Jawa Barat. Ada juga pemuda dari wilayah Indonesia bagian timur seperti, Ambon, Timor, Sulawesi. Usia mereka berkisar antara 16 sampai 24 tahun.

Sebagian besar pemuda jalanan tersebut datang ke TLF melalui sistem rujukan dari organisasi lain yang bekerja dengan anak-anak jalanan dan pemuda rentan lainnya. Beberapa pemuda tersebut ada juga yang buta huruf, banyak yang tanpa keluarga dan telah tinggal bertahun-tahun di jalanan, sementara yang lain berasal  dari keluarga tidak mampu. Beberapa pemuda tersebut juga pernah memiliki pengalaman dengan kecanduan obat terlarang dan telah menghabiskan waktu di penjara, sementara yang lainnya tidak pernah jauh dari desa mereka.

Apa Yang Mereka Pelajari Di TLF?

TLF mempunyai dua komponen pembelajaran yang terintegrasi, yaitu:

  1. Komponen produsi dan pemasaran sayuran organik, dan
  2. Komponen pelatihan pemuda dan pengembangan masyarakat.

Pelatihan pemuda dan pengembangan masyarakat ada dua tahap. Selama tahap pertama, para remaja berpartisipasi dalam program 100 hari pertama untuk keterampilan hidup, kegiatan pelatihan kejuruan dan kewirausahaan dengan penekanan pada pemahaman dasar pertanian organik.

Siklus belajar dan penerapan keterampilan baru yang saling menguatkan telah membantu kaum muda menjadi individu yang mampu dan mandiri. Pada akhir 100 hari pertama, para peserta akan diberikan 2 pilihan apakah ingin mencari pekerjaan dengan perusahaan pertanian organik lainnya atau tetap tinggal di TLF untuk Tahap Kedua. Pada tahap kedua ini berlansung selama 100 hari, peserta akan dilibatkan dalam proses belajar yang lebih individual dan self directed, memperluas dan memperdalam pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama masa pelatihan awal mereka di pertanian organik.

Produk Pertanian Apa Saja yang Sudah Dihasilkan?

Para peserta yang sudah bergabung di TLF telah menghasilkan produk pertanian organik berupa sayuran, benih dan beras. Untuk produk beras terdiri dari beras jenis beras merah, beras mentik susu dan mentik wangi. Produk benih yang dihasilkan yaitu benih oregano, basil, thyme, rosmary, dill, pepermint, nasturtium, coriander, mitsuba dan thyme.

Sedangkan untuk produk sayuran, yaitu sayur selada hijau, selada head, selada merah, daun bawang, bayam hijau, brokoli, kol, sawi putih, caisim, pak choy/bok choy, kale, bayam merah, buncis, tomat cherry, terong ungu, jagung manis, tomat, beet, wortel, dll.

Beberapa produk sayuran dan beras tersebut juga telah tersedia di KECIPIR www.kecipir.com

Sumber: http://thelearningfarm.com/

1510total visits,3visits today